Assalamu'alaykum warohmatullah wabarokatuh
Semoga pembaca senantiasa berada dalam kebaikan dan kebenaran.
Baru aja aku ganti judul dari "Daun Permata Biru" menjadi "Travelling Hati". Yup, setelah kupikir-pikir, blog ini memang lebih cocok diberi judul demikian. Soalnya, secara pribadi, blog ini memang menjadi saksi bisu atas travelling hati yang kujalani. Ya, judul ini pun mengangkat fenomena internet yang sedang 'hot' alias sedang naik daun, yaitu tentang travelling.
Banyak banget blog dan tulisan-tulisan yang menyuguhkan kaitan travelling mereka. Dan hal ini pun menjadi salah satu sarana para penulis travelling tersebut mencari biaya hidup alias bisnis. Jujur aja, ya, aku nggak begitu diberkahi dengan kemampuan travelling seperti mereka yang kemana-mana menjelajahi bumi Allah ini. Dan sebenarnya, rasanya tuh kayak kepengeen juga, hehe. Tapi, sadar nggak sadar, di dalam diri kita pun ternyata sering terjadi travelling.
Perjalanan pikiran, pemahaman, penafsiran, dan perasaan kita terhadap kehidupan yang kita jalani. Kadang perjalanan itu harus berada dalam kegelapan dan kesusahan, bak terperangkap di kawah gunung berapi yang hendak meletus. Tapi kadang juga berada dalam ketenangan dan kedamaian, bak liburan di pulau tropis dan bersantai ria.
Tiap diri memiliki perjalanannya masing-masing. Tapi apapun jalurnya, semoga tujuannya tetaplah ridha Allah 'azza wa jalla.
Abdullah Ibnu Mas'ud: " Bagi semua orang di dunia ini adalah tamu, dan harta adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi, setiap pinjaman pasti harus dikembalikan"
Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 20 Juni 2015
Jumat, 14 Juni 2013
Kecil memang
Di sela-sela rimbun manusia
Terbetik harapnya
Kecil memang
Tapi bukankah gunung pun terbentuk dari kumpulan kerikil?
Terbetik harapnya
Kecil memang
Tapi bukankah gunung pun terbentuk dari kumpulan kerikil?
[copyright picture not my own]
Minggu, 16 September 2012
Dan Ia Kembali Merenung
Di tengah semak belukar yang tak begitu menghanyutkan, gemericik air masih menemani sesosok kelopak yang tak begitu menarik bagi sebagian manusia yang melewatinya. Gemericik itu berasal dari sederetan genangan yang masih saja membasahi sebuah kota manusia. Sesekali kelopak itu melambai, mengikuti hembusan angin yang menariknya lembut ke kanan dan kiri. Di sudut kelopak itu, nampak setitik embun yang enggan menjatuhi gundukan cokelat di bawahnya. Ia, dengan semak dan genangan air itu menangis.
Para manusia yang melaju tak sedetik pun menoleh kepadanya, sekedar tersenyum menyapa sosok mungil yang tengah bersedih itu. Semak tahu bahwa itu akan mustahil bagi sang kelopak. Genangan lebih menyadari lagi kesedihan kelopak yang takkan berujung itu. Seakan semua angan kelopak hanya 'kan menyisakan keresahan tanpa ujung, jalan tanpa akhir.
Sinar mentari mulai menipis dan tampak rona kemerahan di ufuk barat langit, ia, sang kelopak masih menatap penuh harap langkah-langkah yang berlalu dengan frekuensi semakin cepat. Terkadang ia tersenyum karena pada akhirnya ada seorang yang bertubuh mungil menatapnya kebingungan. Dan sesekali, ia dapat bercengkerama dengan semak dan genangan tentang hal tersebut.
Bulan mulai nampak menerangi jalan-jalan yang ia saksikan. Kelap kelip lampu, dan masih saja sepatu-sepatu itu menarik perhatiannya. Deru kendaraan pun menemani kesunyian lubuk hatinya. Permukaan tubuhnya telah penuh dengan debu dan kotoran, tetapi ia tak pernah berhenti berharap.
Lama.
Lama ia menanti.
Jauh.
Semakin jauh harapannya.
Kini ia harus rela berpisah dengan dunia. Sepasang sepatu yang selalu ia kagumi, kini telah membuatnya hancur. Dan semak-semak pun hanya bisa menyesali kepergiannya.
Kelopak yang malang.
Para manusia yang melaju tak sedetik pun menoleh kepadanya, sekedar tersenyum menyapa sosok mungil yang tengah bersedih itu. Semak tahu bahwa itu akan mustahil bagi sang kelopak. Genangan lebih menyadari lagi kesedihan kelopak yang takkan berujung itu. Seakan semua angan kelopak hanya 'kan menyisakan keresahan tanpa ujung, jalan tanpa akhir.
Sinar mentari mulai menipis dan tampak rona kemerahan di ufuk barat langit, ia, sang kelopak masih menatap penuh harap langkah-langkah yang berlalu dengan frekuensi semakin cepat. Terkadang ia tersenyum karena pada akhirnya ada seorang yang bertubuh mungil menatapnya kebingungan. Dan sesekali, ia dapat bercengkerama dengan semak dan genangan tentang hal tersebut.
Bulan mulai nampak menerangi jalan-jalan yang ia saksikan. Kelap kelip lampu, dan masih saja sepatu-sepatu itu menarik perhatiannya. Deru kendaraan pun menemani kesunyian lubuk hatinya. Permukaan tubuhnya telah penuh dengan debu dan kotoran, tetapi ia tak pernah berhenti berharap.
Lama.
Lama ia menanti.
Jauh.
Semakin jauh harapannya.
Kini ia harus rela berpisah dengan dunia. Sepasang sepatu yang selalu ia kagumi, kini telah membuatnya hancur. Dan semak-semak pun hanya bisa menyesali kepergiannya.
Kelopak yang malang.
Langganan:
Komentar (Atom)
